Dari Sebuah Tulisan Sederhana Menjadi Buku: Kisah Lahirnya Langkah Pertama di MTs Tarbiyatul Akhlak

 

Launcing Buku dan Apresiasi Karya via Kreatormerdeka.com

Tidak ada yang langsung menjadi penulis dalam semalam.

Semua berawal dari satu kalimat. Satu paragraf. Satu keberanian untuk menuliskan apa yang ada di kepala dan hati.

Bagi siswa-siswi MTs Tarbiyatul Akhlak Kramatwatu, Kabupaten Serang, perjalanan itu dimulai beberapa bulan lalu. Saat sebagian dari mereka masih ragu menulis, bingung memulai cerita, bahkan tidak yakin apakah tulisannya layak dibaca orang lain.

Namun hari itu akhirnya tiba.

Di sela-sela acara Pelepasan Siswa Kelas IX Tahun Pelajaran 2025/2026 pada Kamis (4/6/2026), para siswa berdiri dengan senyum bangga sambil memegang sebuah buku berjudul Langkah Pertama.

Buku itu bukan karya penulis terkenal.

Bukan pula karya profesional yang telah bertahun-tahun menulis.

Buku itu adalah karya mereka sendiri.

Sebuah antologi cerpen yang lahir dari proses belajar, keberanian mencoba, dan keyakinan bahwa setiap anak memiliki cerita yang layak untuk dibagikan.

Ketika Literasi Tidak Berhenti di Rak Buku

Banyak program literasi berakhir pada kegiatan membaca.

Namun bagi Suherman, S.T., M.M., Duta Baca Provinsi Banten yang dikenal dengan nama Leo Ikals, literasi seharusnya melangkah lebih jauh.

Literasi harus melahirkan karya.

Keyakinan itulah yang mendorongnya menggagas Program Duta Baca BerliterAksi, sebuah gerakan yang mengajak pelajar tidak hanya menjadi pembaca, tetapi juga menjadi penulis dan kreator.

Sebagai Founder Kreator Merdeka, Suherman selama ini aktif mendorong anak-anak muda untuk berani berkarya dan berdaya melalui karya. Baginya, kemampuan menciptakan sesuatu jauh lebih penting daripada sekadar mengonsumsi informasi.

"Saya sering bertemu anak-anak yang sebenarnya punya ide luar biasa, tetapi tidak percaya diri untuk menyampaikannya. Ada yang takut salah, ada yang merasa tulisannya tidak bagus, ada juga yang merasa dirinya tidak berbakat. Padahal semua penulis hebat pernah berada di posisi itu," ujarnya.

Melalui Program Duta Baca BerliterAksi, Suherman berupaya menghadirkan ruang yang aman bagi pelajar untuk belajar, mencoba, dan bertumbuh.

"Tugas kita bukan menciptakan penulis hebat dalam sehari. Tugas kita adalah membantu mereka berani memulai. Karena setiap karya besar selalu dimulai dari keberanian kecil yang terus dipelihara," katanya.

Sebuah Buku Bernama Langkah Pertama

Nama Langkah Pertama dipilih bukan tanpa alasan.

Buku ini menjadi simbol perjalanan awal para siswa dalam dunia kepenulisan.

Mungkin beberapa tahun ke depan mereka akan menjadi guru, pengusaha, dokter, pemimpin, kreator konten, atau profesi lainnya.

Namun buku ini akan selalu menjadi pengingat bahwa mereka pernah memulai sesuatu yang tidak mudah: menulis dan menyelesaikannya.

"Judul Langkah Pertama memiliki makna yang sangat dalam. Kami ingin siswa memahami bahwa kesuksesan tidak datang sekaligus. Semua berawal dari langkah pertama. Begitu juga dengan menulis. Yang terpenting bukan seberapa sempurna tulisan pertama kita, tetapi apakah kita berani memulainya," jelas Suherman.

Merayakan Keberanian Berkarya

Leo Ikals Memberikan Apresiasi via Kreatormerdeka.com

Kepala MTs Tarbiyatul Akhlak Kramatwatu, H. Satiri, S.Ag., menyambut baik lahirnya karya siswa tersebut sebagai bagian dari upaya membangun budaya literasi di lingkungan madrasah.

Menurutnya, pendidikan tidak hanya bertugas mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga membantu siswa menemukan dan mengembangkan potensi terbaik dalam dirinya.

Hal senada disampaikan oleh Pembina Gerakan Literasi Sekolah (GLS), Qurotul Aini, S.Pd. Ia melihat bagaimana siswa menunjukkan antusiasme dan semangat yang tinggi selama proses penulisan berlangsung.

Dari halaman demi halaman yang mereka tulis, tumbuh kepercayaan diri yang sebelumnya mungkin belum pernah mereka rasakan.

Dari Kramatwatu untuk Masa Depan

Bagi Kreator Merdeka, lahirnya Langkah Pertama bukan sekadar peluncuran sebuah buku.

Ini adalah bukti bahwa ketika anak muda diberikan ruang, pendampingan, dan kepercayaan, mereka mampu menghasilkan karya yang membanggakan.

Buku ini mungkin hanya terdiri dari kumpulan cerpen.

Tetapi di balik setiap cerpen, ada keberanian yang tumbuh.

Ada rasa percaya diri yang mulai dibangun.

Ada mimpi yang perlahan menemukan jalannya.

Dan mungkin, dari buku sederhana yang lahir di sebuah madrasah di Kramatwatu ini, akan lahir penulis, pemimpin, dan kreator masa depan yang kelak memberi manfaat bagi banyak orang.

Karena setiap perjalanan besar selalu dimulai dari satu langkah kecil.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama