Engga Rahmawati dan Cara Bertahan Lewat Kata

 

Engga Rahmawati via Kreatormerdeka.com

Tidak semua orang menemukan ruang untuk dirinya sendiri.

Sebagian tenggelam dalam pekerjaan.
Sebagian sibuk menjadi orang tua.
Sebagian lupa bahwa dirinya juga butuh tempat untuk pulang.

Engga Rahmawati hampir berada di titik itu.

Sehari-hari ia bekerja sebagai PNS di DPUPR Kota Cilegon. Setelah jam kerja selesai, perannya belum benar-benar usai. Di rumah, ia adalah ibu dari dua anak perempuan yang sedang tumbuh, belajar, dan membutuhkan perhatian penuh.

Hidupnya padat.
Tanggung jawabnya nyata.
Waktunya terasa sempit.

Tapi di sela semua itu, Engga menemukan satu ruang kecil yang pelan-pelan menyelamatkannya: menulis.

 

Menulis yang Awalnya Hanya Ingin Belajar

Tahun 2020 menjadi titik balik.

Saat itu Engga bertemu dengan Sahabat Literasi Cilegon. Awalnya sederhana: ia hanya ingin belajar puisi. Tidak ada ambisi besar. Tidak ada target menjadi penulis hebat. Hanya ingin memahami bagaimana kata-kata bisa berbunyi indah dan jujur.

Namun sesuatu terjadi.

Dari belajar puisi, ia mulai menulis lebih serius. Dari menulis, ia belajar mengedit naskah. Dari mengedit, ia belajar membuat cover. Dari satu langkah kecil, tumbuh langkah-langkah berikutnya.

Hingga akhirnya, ia dipercaya menjadi Co-Founder Sahabat Literasi Cilegon.

Bukan karena paling hebat.
Tapi karena paling mau bertumbuh.

 

Ketika Menulis Menjadi Self-Healing

Ada fase dalam hidup ketika perasaan terlalu penuh untuk diucapkan.

Engga menemukan bahwa menulis adalah cara paling aman untuk meluapkannya. Setiap kalimat menjadi tempat menaruh lelah. Setiap paragraf menjadi ruang menyimpan kenangan.

Ia menulis bukan untuk pembaca.
Ia menulis untuk dirinya sendiri.

Tulisan-tulisan itu membantunya mengingat peristiwa penting dalam hidup. Membantu merapikan emosi. Membantu menyembuhkan luka yang tak terlihat.

Menulis menjadi metode self-healing yang tak pernah ia rencanakan, tapi sangat ia butuhkan.

 

Minder? Pasti.

Engga bukan lulusan sastra. Dan rasa minder itu nyata.

Takut tulisannya jelek? Iya.
Merasa belum cukup baik? Sering.

Tapi ia memilih untuk tidak berhenti hanya karena takut.

Ia belajar. Ia membuka diri. Ia tidak malu bertanya pada mereka yang lebih dulu ahli. Karena baginya, literasi bukan tentang siapa yang paling berbakat. Tapi siapa yang paling konsisten mau belajar.

 

Peran Paling Berat, Sumber Cerita Paling Dalam

Dari semua peran yang ia jalani, menjadi ibu adalah yang paling membentuk tulisannya.

Menjadi ibu bukan hanya tentang mengurus. Ada kekhawatiran, ada perjuangan, ada malam-malam panjang yang tidak semua orang tahu. Dan justru dari situ lahir tulisan-tulisan yang paling personal.

Ia ingin mengabadikan momen-momen itu.
Karena beberapa perjuangan terlalu berharga untuk dilupakan.

 

Saat Hampir Menyerah

Ada satu masa yang membuatnya hampir berhenti menulis.

Anaknya tiba-tiba sakit dan tidak bisa berjalan selama dua bulan. Semua pikiran, semua energi, semua perhatian tertuju ke sana.

Di titik itu, menulis terasa jauh. Ia merasa putus asa. Bahkan sempat terlintas untuk berhenti.

Tapi mungkin justru karena pernah menulis, ia tidak benar-benar kehilangan dirinya. Tulisan-tulisan sebelumnya menjadi pengingat bahwa ia pernah kuat.

Dan ia memilih untuk tetap berjalan.

 

Sahabat Literasi: Lahir dari Empati

Sahabat Literasi Cilegon tidak lahir dari rencana besar. Ia lahir dari kepedulian.

Awalnya adalah respon terhadap bencana tsunami di Banten. Beberapa penulis berkumpul, membuat buku bersama, dan hasil penjualannya didonasikan untuk korban. Tulisan menjadi cara untuk membantu, ketika tangan tak bisa langsung menjangkau.

Dari situ, komunitas ini tumbuh.

Tantangan terbesarnya adalah mengubah mindset: bahwa menjadi penulis itu tidak sesulit yang dibayangkan. Literasi bukan sesuatu yang eksklusif. Ia sederhana — selama ada kemauan.

Hari ini, di usia 7 tahun, Sahabat Literasi masih bertahan. Masih aktif. Masih menyalakan lilin-lilin kecil literasi di berbagai daerah. Baik melalui donasi, maupun melalui ilmu kepenulisan.

Dan dari perjalanan tujuh tahun itu, Engga belajar tentang ketahanan. Tentang kemampuan bertahan dalam berbagai situasi. Tentang konsistensi meski tidak selalu mudah.

 

Berdaya Lewat Karya

Bagi Engga, berdaya lewat karya bukan tentang seberapa terkenal tulisanmu.

Berdaya lewat karya adalah ketika apa yang kamu buat memberi manfaat bagi orang lain.

Seperti bukunya yang paling personal, “Kamu Tak Sendiri.”

Buku itu lahir dari satu tahun proses yang penuh emosi, di masa pandemi COVID-19. Masa ketika dunia terasa sunyi dan banyak orang merasa kehilangan.

Ia menulis agar siapa pun yang membacanya tahu satu hal: kamu tidak sendiri dalam kesedihanmu.

Dan mungkin, itulah bentuk daya yang paling sederhana sekaligus paling kuat.

 

Ke Mana Selanjutnya?

Ke depan, Engga ingin membuat karya yang lebih dekat dengan alam. Mengambil filosofi dari pepohonan, tanah, dan perjalanan yang sunyi.

Karena alam, seperti tulisan, mengajarkan tentang ketenangan dan ketahanan.

 

Sebuah Pesan untuk Kamu

Jika ada satu pesan yang ingin ia sampaikan, itu ini:

Jangan ragu untuk menulis.
Tulislah apa yang kamu pikirkan dan rasakan.

Karena bagaimana mungkin hidupmu bermakna, jika kamu tak pernah berani berkarya?

Dan dari kisah Engga Rahmawati, kita belajar satu hal sederhana:

Berdaya bukan soal punya waktu lebih.
Berdaya adalah soal berani menciptakan ruang — bahkan di tengah hidup yang paling sibuk sekalipun.

Promosikan Karyamu Lewat Program RUANG KREATOR!

Kamu juga kreator muda yang punya karya tulis, film pendek, puisi, lagu, atau apapun yang layak disuarakan?

Gabung dan tampil di RUANG KREATOR bareng kreator-kreator inspiratif lainnya seperti Engga!

📩 Langsung aja DM ke Instagram @kreatormerdeka

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama