Dari Braille ke Buku: Perjalanan Kata Zelda Maharani

 

Zelda Maharani via Kreatormerdeka.com

Ada orang yang mengenal dunia lewat cahaya. Zelda Maharani mengenalnya lewat kata.

Sejak SD, ketika jari-jarinya menyusuri huruf-huruf braille, Zelda tahu satu hal: membaca bukan sekadar aktivitas, tapi pintu. Setiap buku adalah dunia baru—meski fiksi, meski mustahil terjadi sepenuhnya—selalu ada pelajaran yang bisa dibawa pulang. Dari rasa penasaran itulah, menulis tumbuh. Bukan karena ingin dikenal, tapi karena ingin mengerti: bagaimana sebuah cerita diciptakan?

Dunia yang Dibaca dengan Ujung Jari

Momen pertama membaca buku braille masih melekat sebagai kegembiraan sederhana: memasuki dunia lain. Dunia yang aman untuk bertanya, mencoba, dan memahami hidup dari sudut pandang yang berbeda. Di sanalah Zelda belajar bahwa kata-kata bisa menjadi rumah—tempat bernaung ketika dunia terasa terlalu bising.

Di belakang langkah awal itu ada satu nama yang tak pernah absen: almarhumah ibunya, Tarsidah binti H. Muhammad Juhri. Ibu yang pertama kali mengajarinya membaca dan menulis braille, yang berdiri di antara keterbatasan dan mimpi, yang doanya tetap menyala bahkan delapan tahun setelah kepergian. Dalam setiap kalimat yang ditulis Zelda, ada jejak cinta yang sabar.

Menulis dengan Teknologi, Bertahan dengan Konsistensi

Zelda menulis seperti kita semua—ponsel dan laptop. Bedanya, ada screen reader yang membacakan layar: suara yang menuntun seperti navigasi, tapi jauh lebih kompleks. Teknologi menjadi jembatan, bukan penghalang.

Tantangan terbesarnya justru bukan alat. Konsistensi. Menyelesaikan satu karya utuh membutuhkan disiplin yang keras. Tantangan lain: memisahkan fiksi dari dunia nyata agar tetap waras. Menulis berarti menyelam—dan tahu kapan harus kembali ke permukaan.

Dari Linimasa ke Rak Buku

Novel “I Love You, Kak!” lahir tanpa niat besar. Bahkan judulnya sempat membuat ragu. Tapi Zelda percaya satu hal: setiap karya akan menemukan penikmatnya sendiri. Jika niatnya jujur, jalan akan terbuka.

Karya yang paling berkesan justru masih tumbuh pelan-pelan: “Cahaya Cinta Azizah”, ditulis bersama sahabatnya, Moch. Radix Ardiansyah. Proyek iseng yang berubah menjadi ruang aman—tempat dua orang bertumbuh dan belajar. Di sana, menulis bukan ambisi; ia menjadi alasan untuk bertahan, untuk memilih hidup, dan untuk jatuh cinta lagi pada proses. Dari halaman ke halaman, karya ini menyelamatkan lebih dari sekadar cerita.

Writing Is Healing

Bagi Zelda, dunia fiksi adalah ruang yang adil. Semesta milik penulis. Di sana, kepala bisa dikosongkan, beban diturunkan. Ketika malam tak bersahabat, ia menulis hal-hal acak—bukan untuk sempurna, tapi untuk lega.

Kata-kata memang pisau bermata dua. Bisa melukai, bisa menyembuhkan. Zelda pernah direndahkan; pernah mendengar bahwa bakatnya hanya untuk validasi. Waktu menjawab dengan caranya sendiri: ribuan kata dirajut menjadi buku. Di situlah ia kembali percaya—bahwa tidak semua kata buruk; sebagian adalah obat.

Nada dan Kalimat

Menulis dan musik berjalan beriringan. Zelda kuliah di jurusan musik, menulis sambil mendengarkan lagu, bahkan mulai memusikalisasi puisinya sendiri. Jika menulis adalah bahasa hati, maka musik adalah penuntun dan jembatan. Suatu hari, nada dan kata bisa menjadi bahasa semesta yang menggugah.

Berdaya Lewat Karya

Bagi Zelda, berdaya lewat karya berarti menciptakan kesempatan agar didengar dan dilihat—bukan karena iba, tapi karena nilai yang dibawa. Kepada anak muda yang merasa minder oleh keterbatasan, ia tak menawarkan slogan kosong. Ia menawarkan kejujuran: tetaplah hidup, tetap mencoba, dobrak batas lewat karya. Hal kecil akan bermakna besar jika dikerjakan dengan hati.

Jika tulisannya kelak menjadi film atau lagu, pesannya sederhana dan tegas: dunia tidak selalu ramah, tapi bertahan adalah kemenangan.

Tetap Hidup, Tetap Tumbuh

Zelda Saat Jadi Keynote Speaker via Kreatormerdeka.com

Impian Zelda mungkin lelah digerus ekspektasi, tapi langkahnya belum berhenti. Ia ingin tetap hidup, tetap kuat, tetap positif—meski dunia menghancurkan berkali-kali. Karena bagi Zelda Maharani, selama kata-kata masih bisa dirajut, harapan selalu punya tempat untuk pulang.

Dan dari braille ke buku, dari sunyi ke suara, Zelda membuktikan satu hal: karya bisa menjadi cara paling jujur untuk berdaya.

Promosikan Karyamu Lewat Program RUANG KREATOR!

Kamu juga kreator muda yang punya karya tulis, film pendek, puisi, lagu, atau apapun yang layak disuarakan?

Gabung dan tampil di RUANG KREATOR bareng kreator-kreator inspiratif lainnya seperti Zelda!

📩 Langsung aja DM ke Instagram @kreatormerdeka

✨ Siapa tahu, giliran ceritamu yang menginspirasi Indonesia.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama