Dari Desa ke Provinsi: Cerita Leo Ikals tentang Membaca, Karya, dan Berdaya

 

Leo Ikals Saat Berkunjung di Forum TBM Kota Serang via Kreatormerdeka.com

Pagi itu, Suherman, S.T., M.M atau yang sering dikenal Leo Ikals duduk di sebuah Taman Bacaan Masyarakat. Raknya sederhana. Bukunya tidak mewah. Lantainya biasa saja. Namun ada satu hal yang membuatnya diam sejenak: mata anak-anak yang berbinar saat menemukan cerita yang mereka suka.

Bagi Leo, pemandangan itu bukan hal kecil. Ia selalu percaya bahwa perubahan besar hampir selalu lahir dari ruang-ruang sederhana seperti itu.

Sebagai Duta Baca Provinsi Banten, Leo tidak pernah melihat TBM hanya sebagai tempat menyimpan buku. Ia melihatnya sebagai titik awal keberdayaan. Dan sebagai Founder Kreator Merdeka, ia memahami satu prinsip yang terus ia suarakan: semua karya besar selalu dimulai dari proses belajar. Dan belajar yang paling murah, paling sunyi, namun paling kuat—adalah membaca.

 

Cerita Dimulai dari Desa

Menurut Leo, literasi justru paling berpotensi tumbuh kuat di desa atau kelurahan. Di sana, warga saling mengenal. Komunitas hidup. Interaksi terasa dekat.

Jika ada ruang baca yang aktif, dampaknya cepat terasa.

Ia sering membayangkan setiap desa memiliki TBM yang bukan sekadar buka pintu, tetapi benar-benar hidup. Ada diskusi. Ada kelas kecil. Ada pelatihan digital. Ibu-ibu belajar pemasaran online. Remaja belajar menulis konten. Anak-anak belajar berani berbicara.

Di titik itu, membaca tidak lagi berhenti pada teks. Ia berubah menjadi keterampilan.

Namun Leo juga menyadari, ruang seperti itu tidak bisa berjalan sendiri. Ia membutuhkan dukungan pemerintah desa, keberpihakan anggaran, serta keberanian menjadikan literasi sebagai prioritas, bukan sekadar pelengkap program.

Karena ketika desa kuat literasinya, warganya kuat daya pikirnya.

 

Naik ke Kota: Dari Program ke Gerakan

Leo Ikals Saat Berkunjung di Forum TBM Kota Cilegon via Kreatormerdeka.com

Di tingkat kota atau kabupaten, Leo melihat literasi sering hadir dalam bentuk acara. Ada lomba. Ada peringatan. Ada seremoni.

Namun ia kerap mempertanyakan satu hal: setelah acara selesai, apa yang benar-benar berubah?

Baginya, literasi tidak boleh berhenti sebagai event. Ia harus menjadi gerakan.

Pemerintah kota memiliki peluang besar untuk menghubungkan TBM dengan pelatihan UMKM, mengaitkan literasi dengan ekonomi kreatif, serta membuka jalur antara membaca dan peluang kerja.

Karena membaca yang berdampak adalah membaca yang menggerakkan.

Anak muda yang membaca tentang bisnis bisa memulai usaha kecil. Ibu-ibu yang membaca tentang pemasaran digital bisa memperluas pasar produknya. Remaja yang membaca buku pengembangan diri bisa membangun rasa percaya diri.

Itulah yang ia sebut sebagai literasi yang berdaya.

 

Peran Provinsi: Menjaga Arah Besar

Di level provinsi, menurut Leo, perannya lebih strategis: menjaga arah.

Sebagai Duta Baca Provinsi Banten, ia melihat pentingnya roadmap literasi yang jelas dan berjangka panjang. Bukan hanya program tahunan, tetapi visi pembangunan sumber daya manusia yang konsisten.

Provinsi memiliki kekuatan untuk:

·       Menghubungkan desa, kota, dan komunitas.

·       Menyusun kebijakan yang berpihak pada penguatan literasi.

·       Mendorong kolaborasi lintas sektor.

Leo sering menekankan bahwa pembangunan sumber daya manusia tidak bisa dilepaskan dari kemampuan membaca dan memahami.

Jalan tol bisa dibangun. Gedung tinggi bisa berdiri. Kawasan industri bisa berkembang. Namun tanpa literasi yang kuat, yang terbangun hanya fisik—bukan daya pikir.

 

Membaca Itu Bukan Kuno. Itu Strategi.

Banyak anak muda menganggap membaca itu berat. Namun Leo melihatnya berbeda. Baginya, membaca adalah strategi naik level.

Sebagai kreator, ia memahami bahwa ide tidak pernah muncul dari kekosongan. Ide lahir dari apa yang dikonsumsi setiap hari.

Jika konsumsi pengetahuan dangkal, karya akan dangkal.
Jika konsumsi pengetahuan dalam, karya akan berisi.

Membaca melatih fokus di tengah distraksi. Melatih berpikir jernih di tengah banjir opini. Melatih kesabaran di era serba instan.

Dan mereka yang mampu berpikir jernih, biasanya lebih siap menghadapi masa depan.

 

Berdaya Itu Soal Kendali

Leo Ikals via Kreatormerdeka.com


Bagi Leo, berdaya bukan semata soal ekonomi. Berdaya adalah soal kendali atas hidup.

Orang yang literasinya kuat:

·         Tidak mudah termakan hoaks.

·         Tidak mudah minder.

·         Tidak mudah diprovokasi.

Ia mampu memilah informasi. Ia mampu mengambil keputusan. Ia mampu merancang masa depan. Di situlah membaca menjadi fondasi keberdayaan.

Leo sering membayangkan satu hal sederhana.

Jika desa serius menghidupkan TBM. Jika kota menjadikan literasi sebagai gerakan. Jika provinsi menjaga arah dan konsistensi.

Maka anak-anak yang hari ini duduk membaca di ruang sederhana itu, esok bisa menjadi kreator, pengusaha, pemimpin, atau inovator.

Perubahan memang tidak instan. Namun ia selalu dimulai dari kebiasaan kecil: membuka buku.

Membaca membuat seseorang paham. Berkarya membuatnya berdampak. Dukungan pemerintah membuat dampaknya meluas. Dan ketika ketiganya bertemu, di sanalah lahir masyarakat yang benar-benar berdaya.

 

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama