![]() |
| Ibu Khaeriah via Kreatormerdeka.com |
Kalau duduk bareng Ibu Khaeriah, kamu nggak akan langsung
merasa sedang ngobrol dengan “penulis senior”. Rasanya lebih seperti lagi
dengerin cerita seseorang yang sudah lama bersahabat dengan kata-kata—pelan,
jujur, dan apa adanya.
Sebelum buku, panggung, atau antologi,
dunia menulis Ibu Khaeriah dimulai dari hal yang sangat sederhana: diary.
Catatan harian jadi tempat curhat paling aman. Dari situ, kebiasaan menulis
tumbuh lewat surat-menyurat persahabatan, sahabat pena, sampai hobi mengoleksi
perangko atau filateli. Menulis, bagi Ibu Khaeriah, sejak awal bukan soal ingin
dikenal. Tapi soal ingin didengar—oleh diri sendiri.
Dari
Catatan Harian ke Proses Panjang
Saat peran hidup bertambah—sebagai
pendidik, ibu, dan perempuan—menulis tidak pernah ditinggalkan. Bukan karena
selalu sempat, tapi karena selalu diusahakan.
“Menulis itu proses,” kata Ibu
Khaeriah. Bukan target. Bukan lomba cepat-cepatan. Kadang menulis mengalir,
kadang macet. Saat ada momen, ya ditulis. Saat belum ada, momennya dicari—ikut
pelatihan, lomba, atau sekadar menyediakan ruang untuk kembali ke meja tulis.
Menariknya, Ibu Khaeriah tidak pernah
benar-benar punya niat untuk berhenti menulis. Semuanya berjalan alami. Nggak
ada drama ‘berhenti atau lanjut’. Karena menulis sudah jadi bagian dari hidup
itu sendiri.
Soal
Bakat? Nanti Dulu
Kalau ditanya menulis itu bakat atau
bukan, jawabannya sederhana: pilihan untuk terus berlatih.
“Kalau ada bakat tapi nggak pernah
nulis, ya percuma,” ujar Ibu Khaeriah sambil tertawa kecil. Menulis itu soal
niat. Mulai saja dulu. Dari apa pun yang paling disukai: surat, puisi, dongeng,
atau catatan kecil yang mungkin cuma dibaca diri sendiri.
Karya
yang Paling Membekas
Ada satu momen yang selalu membuat mata
Ibu Khaeriah berbinar saat bercerita: puisi pertamanya yang dimuat di koran saat
kelas 1 SMP.
Bukan cuma karena dimuat, tapi karena
dibayar. Lima ribu rupiah untuk satu puisi. “Waktu itu jajan aja lima puluh rupiah,”
katanya sambil tertawa. Pengalaman itu begitu berkesan, meski ia mengakui
sempat cepat puas di usia muda.
Setelah lulus kuliah, Ibu Khaeriah
pernah nekat membuat buletin Ghaida bermodal recehan—dan ternyata laku
dijual. Tahun 2019, ia menerbitkan antologi puisi solo Cinta Pertiwi.
Dan sekarang, satu mimpi besar sedang dikerjakan: novel pertamanya berjudul JO.
Tantangan
yang Nyata
Sebagai pendidik, tantangan terbesarnya
bukan ide, tapi ruang dan waktu.
Tapi bagi Ibu Khaeriah, kalau dipaksakan dengan niat baik, selalu ada jalan.
Prinsip itu pula yang ia bagikan ke
siswa-siswanya. Ia memotivasi lewat cerita hidupnya sendiri, membuka wawasan
tentang dunia menulis hari ini—dari Wattpad sampai media sosial—dan yang paling
penting: memberi mereka ruang untuk menulis.
Tahun lalu, upaya itu berbuah manis.
Satu antologi puisi karya siswa berhasil terbit. Di luar dugaan, karya-karya
mereka justru luar biasa.
Menulis
Itu Terapi
Buat Ibu Khaeriah, menulis bukan cuma
soal karya. Menulis adalah terapi.
“Daripada sibuk mikirin prasangka
orang, lebih baik sibuk menuangkan isi hati dan pikiran lewat tulisan,”
ujarnya. Luka yang ditulis pelan-pelan berubah jadi karya. Dari beban jadi
manfaat.
Di titik inilah ia memaknai berdaya
lewat karya. Pikiran dan perasaan tidak berhenti sebagai keluhan,
tapi menjelma sesuatu yang bisa dibaca, dirasakan, dan mungkin menguatkan orang
lain.
Komunitas
Itu Penting
Ada satu kalimat yang masih ia ingat
sampai sekarang. Saat menyerahkan buku antologi puisinya ke perpustakaan,
seseorang berkata, “Bu, kalau bisa punya komunitas.”
Kini, Ibu Khaeriah benar-benar
merasakan maknanya. Lewat komunitas Sahabat
Literasi dan Kreator Merdeka,
ia menemukan ruang, teman seperjalanan, dan semangat baru. Dari yang sempat
mandek, pelan-pelan bangkit lagi.
Menyambut
2026 dengan Karya
Optimisme Ibu Khaeriah soal masa depan
literasi begitu terasa. Ia yakin generasi sekarang—Gen Z—akan melahirkan
penulis-penulis hebat di masa depan.
Tahun 2026 menjadi tahun yang sibuk
sekaligus membahagiakan. Selain proses penulisan novel JO, Ibu Khaeriah
terlibat dalam beberapa buku:
·
Antologi inspiratif Cermin Kehidupan bersama Sahabat
Literasi (proses cetak)
·
Antologi ceritalik Bangkit dari Bullying bersama Gong
Publishing
·
Antologi Serumpun Pantun ASEAN bersama SIP Publishing
Mulai
Aja Dulu

Ibu Khaeriah via Kreatormerdeka.com
Kalau perjalanan menulisnya harus
dirangkum dalam satu kalimat, Ibu Khaeriah memilih ini:
Menulis meninggalkan jejak, berkarya
membuahkan manfaat. Hidup itu berjalan dan memang harus diperjuangkan.
Pesannya sederhana, tapi jujur—dan
sangat Gen Z:
Mulai saja. Menulis saja. Dan lanjut menulis. Jangan
takut berkarya.
Karena kadang, satu tulisan kecil hari
ini bisa jadi jejak besar di masa depan.
Promosikan Karyamu Lewat Program RUANG KREATOR!
Kamu juga kreator muda yang punya karya tulis, film pendek, puisi, lagu, atau apapun yang layak disuarakan?
Gabung dan tampil di RUANG KREATOR bareng kreator-kreator inspiratif lainnya seperti Ibu Khaeriah!
📩 Langsung aja DM ke
Instagram @kreatormerdeka
✨ Siapa tahu, giliran ceritamu
yang menginspirasi Indonesia.
