![]() |
| Sedunian via Kreatormerdeka.com |
Ada penulis yang
menulis untuk didengar.
Ada yang menulis untuk dikenal.
Tapi ada juga yang menulis karena butuh tempat pulang.
Sedunian ada di
golongan yang terakhir.
Nama pena itu lahir bukan dari
perenungan panjang di kafe estetik, tapi dari hal yang sangat Gen Z: voting
di Instagram Story tahun 2020. Dari sana, lahirlah “Sedunian”—sebuah nama
yang merangkum banyak makna. Ada “Uni”, ada “dunia”, ada juga serapan rasa dari
kata sedu dan nian. Seolah sejak awal, nama ini sudah jujur: ini
dunia kecil yang isinya perasaan.
Dan di dunia itulah,
cerita menjadi rumah.
Rumah
Tanpa Standar Orang Lain
Bagi Sedunian, rumah bukan soal dinding
atau atap. Rumah adalah ruang di mana kita boleh jadi diri sendiri, tanpa harus
menyesuaikan diri dengan standar siapa pun.
Menulis jadi tempat
paling aman untuk itu.
Semua berawal dari buku harian. Dari
tulisan-tulisan yang sangat privat. Tulisan yang bukan dibuat untuk dinilai,
tapi untuk dicurahkan. Dari perasaan sedih di masa SMP, dari kalimat yang
mungkin berantakan, tanpa ejaan sempurna, tanpa plot rapi.
Justru di situlah
pondasinya terbentuk.
Kebiasaan menulis diary membuat Sedunian
terbiasa menulis tanpa beban. Tanpa aturan kaku. Tanpa harus “benar”. Ia tumbuh
sebagai penulis pantser—menulis sambil berjalan, sambil merasakan. Meski
sekarang ia sadar, untuk cerita yang lebih kompleks, pantser tetap perlu
berdamai dengan plotter. Bebas, tapi tetap punya arah.
Saat
Tulisan Mulai Didengar
Tahun 2013 jadi salah satu titik
penting. Sebuah cerbung di Facebook mengubah banyak hal. Dari sana, pembaca
datang. Teman datang. Bahkan, dunia nyata ikut terhubung.
Ternyata tulisan bisa
menjembatani manusia.
Dan sejak saat itu,
Sedunian tahu:
kata-kata
punya dampak.
Galau
sebagai Identitas
Di tengah era personal branding,
Sedunian memilih satu hal yang sangat jujur: galau.
Bukan dibuat-buat.
Bukan gimmick.
Galau adalah kondisi paling subur untuk menulis.
Di saat perasaan turun, kata-kata
justru mengalir. Ada rasa sedu yang konsisten hadir di tiap tulisan. Dan itu
selaras dengan nama penanya. Sedu dan nian. Luka dan dunia. Perasaan dan
cerita.
Branding itu bukan dibuat agar terlihat
keren, tapi karena memang nyata.
Bertahan
di Tengah Banjir Konten
Menjadi penulis di era digital bukan
hal mudah. Tantangan terbesarnya bukan soal menulis, tapi membangun branding yang cukup kuat untuk
membuat orang berhenti dan membaca.
Sedunian sadar, kemampuannya mungkin
belum sejauh penulis-penulis besar dengan audiens loyal. Tapi ia percaya satu
hal: semua orang adalah penulis bagi dirinya sendiri. Dan konsistensi bukan
soal membuktikan ke orang lain, tapi tentang tidak meninggalkan diri sendiri.
Caranya bertahan
sederhana tapi sulit:
tetap jadi diri sendiri.
Baca lebih banyak. Memperkaya kosa
kata. Memperluas sudut pandang. Tapi tidak berubah menjadi orang lain.
Menulis
di Tengah Peran Sehari-hari
Sebagai ibu rumah tangga, ide justru
datang di sela rutinitas. Saat melakukan pekerjaan rumah, saat pikiran
mengembara. Dan malam hari menjadi waktu paling sakral—saat sunyi datang dan
cerita minta dituliskan.
Dari situlah novel
pertamanya lahir.
Novel yang bukan sekadar fiksi, tapi juga
terapi. Inner child yang akhirnya diberi ruang bicara. Dunia yang dibangun dari
pengalaman masa kecil, lalu diperkaya karakter fiksi. Prosesnya berat, terutama
saat membangun dunia cerita. Tapi justru di sanalah Sedunian belajar bertahan.
Bertumbuh
Bersama Komunitas
Perjalanan ini tidak dilalui sendirian.
Komunitas Sahabat Literasi Cilegon jadi ruang belajar dan bertumbuh. Dukungan,
pengetahuan, dan rasa “tidak sendirian” menjadi bahan bakar penting—terutama
bagi penulis pemula.
Karena menulis memang sunyi, tapi bertumbuh
lebih sehat kalau bareng-bareng.
Surat
untuk Diri di Masa Lalu
Jika Sedunian bisa bicara pada dirinya
yang masih SMP, yang rajin menulis diary dan cerbung, ia hanya akan bilang:
Terima kasih sudah
menulis.
Terima kasih tidak berhenti.
Terima kasih sudah percaya, meski belum tahu hasilnya.
Mimpi-mimpi yang dulu ditulis
pelan-pelan, satu per satu, ternyata mulai menepati janji.
Dan untuk siapa pun yang membaca ini:
jangan merasa kecil hanya karena mimpimu
belum terjadi hari ini. Mungkin besok. Mungkin nanti. Tapi tulisanmu punya
waktunya sendiri.
Ketika
Cerita Menjadi Rumah
Ketika cerita menjadi
rumah,
kita berhenti berpura-pura.
Topeng dilepas.
Bahu diturunkan.
Dan dunia yang tadinya terasa jauh, akhirnya terasa dekat.
Karena pada akhirnya, kita semua hanya ingin punya tempat pulang.
Dan bagi Sedunian—tempat itu bernama cerita.
Promosikan Karyamu Lewat Program RUANG KREATOR!
Kamu juga kreator muda yang punya karya tulis, film pendek, puisi,
lagu, atau apapun yang layak disuarakan?
Gabung dan tampil di RUANG KREATOR bareng
kreator-kreator inspiratif lainnya seperti Sedunian!
📩 Langsung aja DM ke
Instagram @kreatormerdeka
✨ Siapa tahu, giliran ceritamu
yang menginspirasi Indonesia.
