![]() |
| Contagious karya Jonah Berger via Kreatormerdeka.com |
Apa yang membuat sebuah ide,
karya, produk, atau konten bisa menyebar dari satu orang ke orang lain?
Mengapa ada sebuah video yang awalnya dibuat oleh satu
orang, kemudian dibicarakan ribuan bahkan jutaan orang?
Mengapa ada buku yang awalnya hanya ditulis oleh seorang
penulis, tetapi kemudian menjadi bahan percakapan banyak orang?
Mengapa ada produk sederhana yang tiba-tiba dikenal luas?
Dan mengapa ada sebuah gagasan yang terus dibicarakan,
bahkan jauh setelah orang pertama kali menemukannya?
Pertanyaan-pertanyaan inilah yang menjadi salah satu
pembahasan menarik dalam buku Contagious:
Why Things Catch On karya Jonah
Berger.
Artikel ini mengambil insight dan kerangka pemikiran dari buku tersebut, khususnya enam
prinsip yang dikenal dengan akronim STEPPS: Social Currency, Triggers, Emotion, Public, Practical Value, dan Stories.
Tentunya, artikel ini bukan pengganti buku Contagious.
Jika ingin memahami teori, penelitian, dan contoh-contoh yang lebih lengkap,
membaca langsung karya Jonah Berger adalah pilihan terbaik.
Namun, di Kreator Merdeka, kami mencoba menerjemahkan
insight tersebut ke dalam konteks yang lebih dekat dengan kehidupan para
kreator di Indonesia.
Dan ada satu hal penting yang perlu kita sepakati terlebih
dahulu.
Kreator Itu Bukan
Hanya Content Creator

Kreator = Pembuat Dampak via Kreatormerdeka.com
Ketika mendengar kata kreator, banyak orang langsung
membayangkan YouTuber, TikToker, Instagramer, influencer, atau orang yang
setiap hari membuat video.
Padahal, makna kreator jauh lebih luas.
Kreator adalah siapa pun yang
menciptakan karya, gagasan, solusi, atau gerakan yang memberikan nilai dan
berpotensi memberi dampak kepada orang lain.
Seorang guru yang menciptakan metode belajar baru adalah
kreator.
Seorang penulis yang melahirkan buku adalah kreator.
Seorang pengusaha yang menciptakan produk untuk
menyelesaikan masalah pelanggan adalah kreator.
Seorang desainer yang menciptakan identitas visual sebuah
brand adalah kreator.
Seorang aktivis yang membangun gerakan sosial adalah
kreator.
Seorang anak muda yang membuat komunitas untuk membantu teman-temannya
berkembang juga seorang kreator.
Bahkan seseorang yang menciptakan solusi sederhana untuk
masalah di lingkungannya pun sedang melakukan kerja kreatif.
Jadi, menjadi kreator tidak selalu berarti membuat konten.
Konten hanyalah salah satu bentuk karya. Yang lebih penting
adalah apa yang kita ciptakan dan
dampak apa yang ditimbulkannya.
Dari
"Viral" Menuju "Berdampak"
![]() |
| Viral jadi dampak via Kreatormerdeka.com |
Di era media sosial, kata viral sering menjadi ukuran
keberhasilan.
Views tinggi.
Likes banyak.
Followers bertambah.
Konten dibagikan ribuan kali.
Semua itu memang menarik.
Tetapi ada pertanyaan yang lebih penting:
Setelah viral, lalu apa?
Sebab tidak semua yang viral memberikan dampak.
Sebaliknya, sesuatu yang berdampak belum tentu langsung
viral.
Karena itu, semangat Kreator Merdeka bukan sekadar menjadi viral, tetapi bagaimana
membuat karya dan gagasan yang bernilai
mampu menjangkau lebih banyak orang.
Di sinilah insight dari Contagious menjadi menarik.
Jonah Berger menunjukkan bahwa ada karakteristik tertentu
yang membuat orang lebih terdorong untuk membicarakan dan membagikan sesuatu.
Enam prinsip tersebut dikenal sebagai STEPPS.
Mari kita bedah satu per satu.
1.
Social Currency — Buat Orang Merasa Bernilai Saat Membagikannya
Orang cenderung membagikan sesuatu yang membuat mereka
terlihat memiliki wawasan, peduli, pintar, atau menjadi orang yang pertama
mengetahui sesuatu.
Karena itu, tanyakan:
"Ketika orang membagikan
karya saya, nilai apa yang mereka dapatkan?"
Sebuah artikel bisa dibagikan karena memberikan wawasan
baru.
Sebuah template bisa dibagikan karena sangat membantu.
Sebuah video bisa dibagikan karena membuat seseorang
terlihat memiliki sudut pandang yang menarik.
Jadi, jangan hanya berpikir:
"Bagaimana konten saya mendapatkan views?"
Tetapi:
"Mengapa orang mau membagikan karya saya?"
2.
Triggers — Buat Gagasan Mudah Diingat
Kita sering menemukan sesuatu dalam kehidupan sehari-hari
yang kemudian mengingatkan kita pada hal lain.
Itulah yang disebut Triggers.
Gagasan yang terhubung dengan sesuatu yang sering ditemui
akan lebih mudah muncul kembali dalam ingatan.
Misalnya, ketika seseorang melihat buku, ia teringat pesan
tentang pentingnya membaca.
Ketika hari Senin tiba, ia teringat motivasi untuk memulai
minggu.
Ketika melihat seseorang berbicara di depan umum, ia
teringat sebuah tips public speaking.
Pelajarannya
bagi kreator:
Jangan hanya membuat karya yang bagus.
Buat karya yang mudah
diingat dan memiliki kaitan dengan kehidupan sehari-hari audiens.
3.
Emotion — Buat Orang Merasakan Sesuatu
Informasi membuat kita tahu.
Tetapi emosi membuat kita peduli.
Kita bisa memberikan data tentang pentingnya membaca.
Tetapi sebuah cerita tentang seseorang yang hidupnya berubah
karena membaca buku mungkin jauh lebih membekas.
Karena itu, karya yang kuat tidak hanya menjawab:
"Apa yang ingin saya sampaikan?"
Tetapi juga:
"Apa yang ingin saya buat
orang rasakan?"
Bisa berupa haru.
Bisa berupa inspirasi.
Bisa berupa rasa takjub.
Bisa berupa kemarahan terhadap sebuah masalah.
Bisa pula berupa kebahagiaan.
Emosi membuat pesan memiliki
kehidupan.
4.
Public — Buat Mudah Dilihat dan Ditiru
Sesuatu yang terlihat oleh publik lebih mudah ditiru.
Misalnya gerakan:
#Baca10MenitSehari
Ketika orang melihat teman-temannya melakukan hal yang sama,
muncul dorongan untuk ikut.
Prinsip ini bisa diterapkan oleh siapa saja.
Guru bisa menunjukkan kebiasaan membaca.
UMKM bisa menunjukkan proses produksi.
Penulis bisa menunjukkan proses menulis.
Kreator konten bisa menunjukkan proses belajar.
Pengusaha bisa menunjukkan perjalanan membangun bisnis.
Jangan hanya menunjukkan hasil.
Tunjukkan prosesnya.
Karena ketika proses terlihat, orang lain bisa membayangkan:
"Saya juga bisa melakukan itu."
5.
Practical Value — Berikan Sesuatu yang Berguna
Salah satu alasan orang membagikan sebuah karya adalah
karena karya tersebut berguna bagi
orang lain.
Tips.
Checklist.
Template.
Tutorial.
Panduan.
Insight.
Solusi.
Semakin jelas manfaatnya, semakin mudah orang mengatakan:
"Ini harus kamu coba."
Contohnya:
"5 cara menggunakan AI untuk mempercepat pekerjaan."
atau:
"Checklist sederhana sebelum membangun personal branding."
Karya seperti ini memiliki nilai praktis karena orang bisa
langsung menggunakannya.
6.
Stories — Masukkan Gagasan ke Dalam Cerita
Manusia menyukai cerita.
Kita bisa melupakan sebuah nasihat.
Tetapi kita sering mengingat cerita yang menyertai nasihat
tersebut.
Daripada hanya mengatakan:
"Jangan menyerah."
Ceritakan seseorang yang hampir menyerah tetapi memilih
bertahan.
Daripada mengatakan:
"Membaca itu penting."
Ceritakan seseorang yang menemukan jalan hidupnya melalui
sebuah buku.
Cerita adalah kendaraan untuk membawa sebuah gagasan. Dan
ketika cerita tersebut menarik, orang bukan hanya mengingat ceritanya, tetapi
juga membawa pesan di dalamnya.
STEPPS
Bukan Formula untuk Memaksa Viral
![]() |
| STEPPS via Kreatormerdeka.com |
Ada satu hal yang penting untuk dipahami.
Enam prinsip dari Contagious bukanlah tombol ajaib
yang menjamin sebuah karya menjadi viral.
Tidak ada formula yang bisa menjamin setiap konten mendapatkan
jutaan views.
Yang diberikan oleh kerangka STEPPS adalah cara
berpikir.
Kita diajak melihat:
Apa yang membuat orang ingin membicarakan sebuah karya?
Apa yang membuat mereka mengingatnya?
Apa yang membuat mereka merasa perlu membagikannya?
Dan yang paling penting:
Apa yang membuat sebuah gagasan bergerak dari satu orang ke orang lain?
Dari
Konten ke Karya, Dari Viral ke Dampak
![]() |
| Konten jadi karya via Kreatormerdeka.com |
Inilah alasan mengapa insight dari Contagious relevan
bagi siapa saja yang sedang menciptakan sesuatu.
Tidak peduli apakah kita:
·
Content
creator.
·
Penulis.
·
Guru.
·
Pengusaha.
·
Seniman.
·
Desainer.
·
Profesional.
·
Aktivis.
·
Penggerak
komunitas.
·
Atau
seseorang yang sedang membangun sebuah gerakan.
Kita semua bisa menjadi kreator.
Dan karya kita memiliki peluang untuk menyebar ketika karya
tersebut memberikan nilai.
Maka, mungkin pertanyaan yang perlu kita ubah bukan:
"Bagaimana supaya saya viral?"
Tetapi:
"Bagaimana supaya karya saya begitu bernilai sehingga orang ingin
membagikannya kepada orang lain?"
Karena viral hanyalah angka.
Dampak adalah alasan mengapa kita berkarya.
Dan mungkin, di tengah dunia yang semakin mudah menghasilkan
konten dengan bantuan AI, justru kemampuan manusia untuk menciptakan gagasan
yang bernilai, cerita yang bermakna, dan karya yang berdampak akan semakin
penting.
Itulah semangat Kreator Merdeka.
Bukan tentang siapa yang paling banyak membuat konten.
Bukan tentang siapa yang paling banyak mendapatkan views.
Tetapi tentang siapa yang terus menciptakan karya, menyebarkan gagasan baik, dan memberi dampak.
Baca Diri. Baca
Lingkungan. Bergerak Ambil Peran.
Karena setiap orang memiliki kemungkinan untuk menjadi
kreator. Dan setiap karya memiliki kemungkinan untuk mengubah sesuatu.



