Cerita Ucu Kurniawati Dalam Menemukan Tujuan Hidup dengan Seni Mendengarkan

 

Ucu Kurniawati via Kreatormerdeka.com

"Bu, terima kasih sudah mau mendengarkan saya."

Kalimat itu sederhana. Mungkin hanya beberapa detik diucapkan oleh seorang siswa. Namun, bagi Ucu Kurniawati, M.Sos., kalimat tersebut menjadi pengingat bahwa profesi guru Bimbingan dan Konseling bukan sekadar pekerjaan. Ia adalah panggilan untuk menghadirkan harapan bagi mereka yang sedang kehilangan arah.

Di balik pintu ruang BK yang selama ini kerap dipandang sebagai "ruang hukuman", ternyata tersimpan begitu banyak cerita tentang air mata, harapan, dan perjalanan menemukan kembali makna hidup.

Itulah yang dibagikan Ucu Kurniawati dalam Ruang Kreator Episode #28 bersama Suherman,S.T.,M.M atau yang lebih dikenal Leo Ikals, Founder Kreator Merdeka.

 

Semua Berawal dari Pertanyaan tentang Diri Sendiri

Seperti kebanyakan remaja, Ucu pernah berada di titik penuh tanda tanya.

"Saya ingin menjadi orang seperti apa? Apa yang bisa saya lakukan agar hidup saya bermanfaat bagi orang lain?"

Pertanyaan-pertanyaan itu terus mengiringi masa mudanya. Ia senang belajar, aktif berorganisasi, dan mudah bergaul. Namun, jauh di dalam hatinya, ada kegelisahan tentang masa depan dan keinginan untuk menemukan jalan hidup yang benar-benar bermakna.

Ada masa ketika rasa pesimis menghampiri. Ia mempertanyakan apakah hidupnya akan berubah dan apakah ia mampu membahagiakan kedua orang tuanya. Namun dari fase itulah ia belajar bahwa kehilangan arah bukan akhir perjalanan, melainkan awal untuk mengenal diri lebih dalam.

 

Jalan Hidup Itu Bernama Bimbingan dan Konseling

Ucu Kurniawati vai Kreatormerdeka.com

Tak semua orang menemukan panggilannya dengan mudah.

Bagi Ucu, perjalanan itu dibentuk oleh kedua orang tuanya, suami tercinta serta keluarganya yang mengajarkan arti hidup yang bermanfaat, serta guru-guru yang tidak hanya mengajar, tetapi benar-benar hadir untuk mendengarkan murid-muridnya.

Dari sanalah ia memahami bahwa pendidikan bukan sekadar menyampaikan ilmu. Pendidikan adalah tentang menemani seseorang bertumbuh.

Sebuah momen semakin menguatkan keyakinannya.

Seorang siswa yang kehilangan semangat belajar, kesulitan berinteraksi, bahkan menyakiti dirinya sendiri akibat tekanan hidup, perlahan bangkit setelah melalui proses pendampingan.

Melihat senyum itu kembali, Ucu berkata dalam hati,

"Ya Allah, inilah jalan yang ingin saya jalani."

 

Mendengar Lebih Berarti daripada Menghakimi

Ada satu pengalaman yang tak pernah hilang dari ingatannya.

Seorang siswa yang tampak ceria ternyata menyimpan beban keluarga yang begitu berat.

Setelah melalui proses konseling, siswa itu berkata,

"Bu, terima kasih sudah mau mendengarkan saya."

Kalimat itu mengubah cara Ucu memandang profesinya.

Ternyata, tidak semua orang membutuhkan solusi yang rumit. Banyak yang hanya membutuhkan seseorang yang benar-benar hadir dan mendengarkan dengan sepenuh hati.

Dari pengalaman itulah lahir filosofi yang selalu ia pegang:

"Mendengar dengan hati, membimbing dengan cinta, mengantarkan meraih cita."

 

Mengubah Stigma tentang Ruang BK

Masih banyak siswa yang menganggap ruang BK sebagai tempat bagi mereka yang bermasalah.

Padahal menurut Ucu, ruang BK seharusnya menjadi ruang aman.

Tempat siapa pun bisa datang ketika hati sedang lelah.

Ia bahkan memiliki satu kalimat sederhana yang selalu disampaikan kepada para siswanya.

"Kalau kalian sakit datang ke UKS. Kalau hati dan pikiran sedang lelah, datanglah ke BK."

Baginya, ruang BK bukan ruang hukuman.

Ruang BK adalah ruang pertumbuhan.

 

Mengenal Diri Adalah Awal Menemukan Tujuan Hidup

Dalam perbincangan bersama Ruang Kreator, Ucu menegaskan bahwa mengenal diri bukan sekadar memahami kelebihan dan kekurangan.

Mengenal diri berarti memahami siapa diri kita di hadapan Allah, mengenali potensi yang telah dititipkan, serta menemukan alasan mengapa kita diciptakan.

Ketika seseorang memahami hal itu, ia tidak akan mudah kehilangan arah hanya karena penilaian orang lain.

Karena tujuan hidup, menurutnya, bukan hanya soal pekerjaan atau jabatan.

Tujuan hidup adalah ketika apa yang kita lakukan memberi manfaat, membuat kita terus bertumbuh, dan semakin mendekatkan diri kepada Allah.

 

Menulis sebagai Ikhtiar Merawat Generasi

Buku Layanan BK Islami Kontemporer via Kreatormerdeka.com


Kegelisahan melihat berbagai persoalan remaja, terutama trauma akibat perundungan, mendorong Ucu menulis buku Layanan BK Islami Kontemporer.

Buku tersebut lahir bukan sekadar sebagai karya akademik, tetapi sebagai bentuk kepedulian terhadap masa depan anak-anak Indonesia.

Ia percaya bahwa layanan BK harus berkembang mengikuti zaman, tanpa meninggalkan nilai-nilai Islam sebagai fondasi utama dalam mendampingi peserta didik.

 

Menjadi Manusia yang Bermakna

Di akhir perbincangan, Ucu meninggalkan satu pesan yang terasa sederhana, tetapi begitu dalam.

"Kenalilah dirimu, dekatkan hatimu kepada Allah, dan jadilah pribadi yang bermanfaat untuk orang lain."

Sebab pada akhirnya, tujuan hidup bukan hanya tentang menjadi sukses.

Melainkan menjadi seseorang yang kehadirannya memberi makna bagi kehidupan orang lain.

Dan mungkin, itulah alasan mengapa ruang BK seharusnya tidak lagi dipandang sebagai ruang bagi mereka yang bermasalah.

Melainkan ruang tempat seseorang belajar mengenal dirinya, menemukan harapannya, dan memulai langkah menuju masa depan yang lebih baik.

 Ruang Kreator Episode #28 bersama Ucu Kurniawati, M.Sos. mengajak kita memahami bahwa perubahan besar selalu dimulai dari keberanian mengenal diri sendiri. Sebab ketika seseorang mengenal dirinya, ia akan lebih mudah menemukan tujuan hidup yang sesungguhnya.


Promosikan Karyamu Lewat Program RUANG KREATOR!

Kamu juga kreator muda yang punya karya tulis, film pendek, puisi, lagu, atau apapun yang layak disuarakan?

Gabung dan tampil di RUANG KREATOR bareng kreator-kreator inspiratif lainnya seperti Engga!

 📩 Langsung aja DM ke Instagram @kreatormerdeka

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama