![]() |
| Ruang Kreator via Kreatormerdeka.com |
Di balik ruang kelas yang tampak biasa, sering kali ada guru
yang sedang berjuang dengan cara yang luar biasa. Bukan hanya menyampaikan
materi, tetapi juga mencari cara agar ilmu benar-benar hidup—relevan dengan
zaman, menyentuh hati murid, dan bertahan lebih lama dari sekadar nilai di
rapor.
Di sinilah pertemuan antara menulis, mengajar, dan
berinovasi menjadi penting.
Artikel ini menjadi pengantar obrolan inspiratif dalam Ruang
Kreator Episode 24, sebuah ruang dialog tentang karya, pendidikan, dan
teknologi.
Menulis: Cara Guru
Merawat Pikiran dan Nilai
Bagi banyak pendidik, menulis sering dianggap aktivitas
tambahan. Padahal, menulis justru bisa menjadi cara guru merawat pikiran,
menyusun gagasan, dan menegaskan nilai yang ingin ditanamkan kepada peserta
didik.
Kegemaran menulis kerap lahir dari kebiasaan membaca. Dari
buku sejarah, pengalaman lapangan, hingga refleksi setelah mengajar—semuanya
bisa menjadi bahan tulisan. Menulis membuat guru tidak hanya menjadi penyampai
pengetahuan, tetapi juga produsen gagasan.
Di era digital, tulisan guru tidak lagi berhenti di buku
catatan pribadi. Ia bisa hidup di blog, media sosial, modul digital, atau
bahkan menjadi bahan ajar yang dibagikan ke sekolah lain. Di sinilah menulis
menjadi bagian dari berdaya lewat karya.
Mengajar: Profesi
yang Terus Belajar
Mengajar bukan profesi yang statis. Dunia berubah, karakter
siswa berubah, cara belajar pun ikut berubah. Guru yang bertahan bukan yang
paling senior, tetapi yang paling adaptif.
Mengajar hari ini bukan hanya soal papan tulis dan buku
paket. Guru ditantang untuk:
·
Memahami
gaya belajar generasi digital
·
Mengaitkan
materi dengan realitas sehari-hari
·
Menjadi
fasilitator, bukan satu-satunya sumber ilmu
Guru yang mau belajar ulang—belajar teknologi, belajar
komunikasi, belajar empati—akan selalu menemukan tempatnya di hati murid.
Berinovasi: Ketika
Teknologi Menjadi Alat, Bukan Tujuan
Teknologi pendidikan sering disalahpahami sebagai tujuan
akhir. Padahal, teknologi hanyalah alat. Nilainya terletak pada
bagaimana ia digunakan untuk memperkuat proses belajar, bukan menggantikannya.
Integrasi teknologi dalam dunia pendidikan bisa hadir dalam
bentuk:
·
Sistem
manajemen sekolah yang lebih rapi dan transparan
·
Media
pembelajaran digital yang interaktif
·
Pemanfaatan
platform daring untuk kolaborasi guru dan siswa
·
Dokumentasi
pembelajaran yang lebih tertata dan berkelanjutan
Namun, semua itu tetap harus berpijak pada landasan
pendidikan: nilai, karakter, dan tujuan pembelajaran. Tanpa itu, teknologi
hanya akan menjadi hiasan.
Ketika Guru Menjadi
Kreator
Di titik inilah peran guru berubah. Ia bukan lagi sekadar
pengajar, tetapi juga kreator pendidikan. Ia menulis, mengajar, dan
berinovasi secara bersamaan.
Guru-kreator tidak menunggu sistem sempurna. Ia mulai dari
apa yang ada:
·
Menulis
dari pengalaman mengajar
·
Mengembangkan
media belajar sederhana
·
Menggunakan
teknologi sesuai kebutuhan siswa
Pelan-pelan, dampaknya terasa. Bukan hanya bagi murid,
tetapi juga bagi dirinya sendiri. Guru tidak lagi sekadar bekerja, tetapi bertumbuh
dan berdaya lewat karya.
Ruang Kreator Episode
24
Gagasan-gagasan ini akan dibahas lebih dalam bersama Ratu
Humairoh, S.Pd, penulis dan pendidik yang aktif mengintegrasikan teknologi
pendidikan dalam pengembangan sistem manajemen sekolah berbasis landasan
pendidikan.
🎙Dipandu oleh:
Suherman, S.T., M.M (Leo Ikals)
Founder Kreator Merdeka,
Ketua PD GPMB Kabupaten,
serta Duta Baca Provinsi Banten.
🗓Waktu Pelaksanaan:
Minggu, 28 Desember 2025
⏰ Pukul 20.00 WIB
Pendidikan Butuh
Lebih Banyak Guru yang Berani Berkarya
Pendidikan tidak akan maju hanya dengan kurikulum baru. Ia
membutuhkan manusia-manusia yang mau berpikir, menulis, dan mencoba hal baru.
Ketika guru berani menulis, mengajar dengan hati, dan
berinovasi dengan teknologi, pendidikan tidak hanya berjalan—ia bergerak maju.
Dan dari ruang kelas kecil, perubahan besar bisa dimulai.
✍Kreator Merdeka
percaya:
Perubahan pendidikan lahir dari guru yang berani berkarya.
Jika kamu seorang pendidik, penulis, atau kreator
pendidikan—teruslah menulis, mengajar, dan berinovasi. Karena dari sanalah daya
itu tumbuh.
